Memori Sawah

Sawah habis di panen di Rappoa, Bantaeng. (foto: Nurabdiansyah)

Saya selalu senang dengan suasana di sawah (terutama angin sepoi-sepoinya). Meskipun saya tidak pernah bertanam padi, tapi dalam beberapa potongan memori masa kecil, saya ingat beberapa interaksi awal saya dengan sawah.

Memori yang masih saya ingat sampai saat ini adalah tentang pesta panen di desa Tandung, sebuah desa kecil di pinggir sungai Mandar. Ibu saya orang Tandung, dan karena alasan ini dimasa kecil saya dekat dengan desa ini. Saya ingat ini pesta panen pertama yang pernah saya datangi. Pagi menjelang siang, ibu dan sepupunya membawa beberapa makanan yang telah disiapkan sebelumnya ke sawah. Ada tenda, penduduk desa berkumpul kemudian makan bersama.

Dulu di desa Tandung ada saluran irigasi untuk mengairi sawah. Sawah di Tandung terbentang sampai desa Katitting, hingga ke perbatasan kabupaten Majene. Memori saya tentang sawah juga terbangun melalui saluran irigasi di desa ini. Selain mandi di sungai, sesekali kami juga bermain di kolam utama saluran irigasi, ada pipa besar yang mengalirkan air layaknya air terjun, itu menjadi pengalaman tak terlupakan karena bukan sekedar mandi di sungai tapi ada sensasi “air terjun” juga.

Tapi tidak berlangsung lama. Saya lupa tahunnya, ada waktu dimana aliran sungai Mandar yang melalui desa Tandung kemudian berbelok arah, membentuk aliran baru sehingga tidak ada lagi air untuk mengairi saluran irigasi. Rentetan peristiwa ini juga meruntuhkan tebing dan jalanan desa sehingga harus dibuat jalan baru memutar sedikit lebih jauh melalui desa Katitting. Hilangnya aliran sungai memutus aliran irigasi. Mungkin ini salah satunya yang menyebabkan kenapa sawah di desa Tandung perlahan menghilang dan berganti dengan kebun. Beberapa memori kecil saya dengan sawah juga tentang berburu burung bangau, yang dulunya masih banyak di sepanjang hamparan sawah dari Tandung hingga Katitting.

Tahun-tahun pertengahan 90-an ketika bersiap untuk pindah sekolah ke Makassar, hamparan yang dulunya sawah rencananya dibanguni perumahan, tapi perumahannya juga tidak jadi, dan menyisakan bengkalai bangunan yang masih bisa ditemukan saat ini.

Memori saya dengan sawah memang tidak banyak, tapi cukup untuk memantik pemikiran bahwa ada banyak hal-hal menarik jika berbicara tentang hamparan hijau yang dibeberapa tempat masih musiman ini. Saya membayangkan bagaimana petani menjaga siklus tanamnya, saya membayangkan budaya-budaya yang tercipta, saya membayangkan cerita-cerita yang terinspirasi darinya, dan sebagainya. Bagi saya, sekedar duduk dan sesekali menikmati angin sepoi-sepoinya saja, itu saja membuat tenang, bagaimana mereka yang setiap hari hidup dan berinteraksi dengannya.

Rappoa, Bantaeng.

Selamat Datang!

And as imagination bodies forth
The forms of things unknown, the poet’s pen
Turns them to shapes and gives to airy nothing
A local habitation and a name.

– WILLIAM SHAKESPEARE (A MIDSUMMER NIGHT’S DREAM)